Misa Malam Natal:
... ternyata, Bukan Misa Perayaan Natal lho...
Seperti tahun-tahun
sebelumnya, misa malam Natal di gereja kita diadakan pada tanggal 24 Desember 2008 pada jam 19.00 WITA. Seperti biasanya pula, umat yang datang sangat banyak, namun pada tahun ini, ditegaskan oleh panitia, tidak boleh ada umat yang melakukan booking tempat duduk. Dan ada lagi yang lain dari biasanya, sebelum misa diadakan doa rosario bersama yang dipimpin oleh anak-anak muda untuk membuat umat tidak terlalu ribut. Tapi meskipun rosario sudah didaraskan, masih saja banyak umat yang ngobrol sendiri. Andai saja mereka tahu betapa besar manfaat rosario bersama di malam Natal. Ada satu hal baik lagi yang menjadi perhatian redaksi, yaitu Maklumat Natal dibawakan oleh pemazmur dengan tidak melihat teks lagi. Luar biasa, apalagi suara, intonasi, artikulasi lagu dibawakan dengan baik oleh Sdri. Lusi pada malam itu.
Dalam homilinya, Rm. Simon, Pr mengajak kita bersyukur karena pada malam itu tidak turun hujan. Sesuai dengan tema Natal tahun ini: ”hidup dalam perdamaian dengan semua orang”, umat diajak untuk mencari makna tema Natal ini. Betapa susahnya mengampuni pada zaman sekarang ini. Bahkan, di zaman yang terlihat serba modern ini, banyak masalah yang tak bisa dihadapi sendiri. Ketika persoalan muncul, sering kita lari dan tidak dapat menghadapi realitas hidup. Yesus pun sejak dalam kandungan sudah mengalami masalah. Kelahiran Yesus di tempat sederhana, mencerminkan bahwa Yesus sungguh hadir di dalam kesederhanaan dan kelemahan-kelemahan manusia, membawa damai. Dua persoalan terberat dalam kehidupan manusia biasanya menyangkut masalah uang dan masalah seksualitas. Misalnya, bagaimana jika sebuah keluarga yang sudah ramai, tiba-tiba sang ibu hamil lagi? Darimana uangnya? Dengan tegas, Rm. Simon menekankan betapa menderitanya jika kita melakukan dosa aborsi. Setengah bercanda, Rm. Simon ingin menampung anak-anak dari kehamilan yang tidak diinginkan, yang penting jangan sampai anak itu diaborsi.
Romo juga menegaskan, bahwa pemasalahan akan membuat kita semakin dewasa, dan jangan takut, karena Tuhan Yesus bersama dengan kita. Romo mengajak agar kita juga berdamai dengan diri sendiri, berusaha menerima diri sendiri. Manusia diciptakan dengan kelemahan, agar bergantung kepada Tuhan. Dosa dan kelemahan kita dipakai Allah untuk menyatakan kemuliaanNya, di mana pada saat kita mengaku dosa, kita memohon rahmat pengampunan dari Allah. Mengakhiri homilinya, Rm. Simon mengajak kita untuk membuka lembaran hidup yang baru dengan hidup dalam perdamaian dengan semua orang.
Perayaan Ekaristi ditutup dengan ucapan selamat Natal dari ketua panitia, Bp. Ryanto, juga dari Rm. Simon dan Rm. Greg. Sebelum berkat penutup diberikan, romo juga menandaskan bahwa misa malam Natal bukan misa perayaan Natal, jadi semua yang hadir di misa malam Natal, diwajibkan datang lagi di perayaan Natal pagi, karena Misa Perayaan Natal adalah misa yang diadakan pada tanggal 25 Desember. Romo juga mendobrak kesalah kaprahan selama ini dengan menganggap misa Natal pagi adalah Natal Anak-anak. Yang benar adalah Misa Natal di mana Gereja Katolik memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjadi petugas liturginya... Ohhh... Jadi selama ini kita semua salah kaprah dong? Upps...! Selamat Natal... (ign)
0 komentar:
Poskan Komentar