Kamis, 18 Desember 2008

JADWAL PETUGAS

PETUGAS PUTRA PUTRI ALTAR MINGGUAN


HARI MINGGU ADVEN II

Sabtu sore : Bella, M.Bobby, Felix, Harpin, Disna, Safira

Minggu pagi : Chintya, Tami, Dita, Arman, Randi, Christofer

Minggu sore : Nana, Dwi, Tarida, Aldo, Salvatore, Samuel

HARI MINGGU ADVEN III

Sabtu sore : Erina, Tasya, Talia, M.Bobby, Gerhand, Reza

Minggu pagi : Kevin, Yoan, Mikael, Selly, Denny, Dea

Minggu sore : Bobby, Aldo, Felix, Jesika, Elisabeth, Angel

HARI JUMAT KETIGA

Jumat sore : Bobby, Kevin, Felix, Chintia, Nana, Erina

HARI MINGGU ADVEN IV

Sabtu sore : Kevin, Denny, Talia, Disna, Harpin, Elisabeth

Minggu pagi : Erina, Felix, Mikael, Dita, Salvatore, Fannie

Minggu sore : Chintia, Dea, Arman, Jessika, Aldo, Gerhand

HARI JUMAT KEEMPAT

Jumat sore : Nana, Reza, Angel, Tina, M. Bobby, Randy

HPP. KELUARGA KUDUS

Sabtu sore : Bobby, Aldo, Felix, Tarida, Tami, Safira

Minggu pagi : Kelly, Salvatore, Yoan, Denny, Mikael, Venni

Minggu sore : Kevin, Dita, Jessica, Harpin, Benny, Dea


PETUGAS PUTRA PUTRI ALTAR MISA HARIAN

01-03 Des : Aliang, Benny, Tami, Venni

04-06 Des : Nana, Tania, Felix, Reza

08-10 Des : Angel, Randy, Denny, Elizabeth

11-13 Des : Erina, Chintia, Kevin, Bobby

15-17 Des : Kelly, Ricardo, Bernard, Disna

18-20 Des : Dwi, Selly, Salvatore, Christoper

22-24 Des : Jessika, M.Bobby, Dita, Aldo

26,27,29 Des : Safira, Dea, Gerhand, Mikael

30-31 Des : Harpin, Tarida, Samuel, Arman


PETUGAS LITURGI

HARI MINGGU ADVEN II

Sabtu sore, 06 Des : Wilayah II

Minggu pagi, 07 Des : Wilayah III

Minggu sore, 07 Des : Wilayah I

HARI MINGGU ADVEN III

Sabtu sore, 13 Des : Wilayah IV

Minggu pagi, 14 Des : Ibu2 Paroki

Minggu sore, 14 Des : Wilayah V

HARI JUMAT KETIGA

Jumat sore, 19 Des : Wilayah III

HARI MINGGU ADVEN IV

Sabtu sore, 20 Des : Wilayah V

Minggu pagi, 21 Des : Bpk2 Paroki

Minggu sore, 21 Des : Wilayah II

HARI JUMAT KEEMPAT

Jumat sore, 26 Des : KHUSUS

HPP. KELUARGA KUDUS

Sabtu sore, 27 Des : Wilayah I

Minggu pagi, 28 Des : Wilayah IV

Minggu sore, 28 Des : KOMKA

informasi

JAM MISA HARI RAYA NATAL

Rabu, 24 Desember : 19.00 WITA

( Malam Natal )


Kamis, 25 Desember : 08.00 WITA

( Hari Raya Natal )



MISA MALAM TAHUN BARU

akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2008 pukul 19.00 WITA

MISA TAHUN BARU

akan diadakan pada tanggal 1 Januari 2009, pada pukul 08.00 WITA




PERAYAAN NATAL LANSIA

akan diadakan pada tanggal 29 Desember 2008 di gereja pada pukul 08.00 WITA,

akan disediakan jemputan dari panitia.

Pendaftaran dapat dilakukan di sekretariat atau lapor ke ketuakomunitas.

Para ketua komunitas harap bekerja sama untuk program ini


Mimpi Maria

Yosef, tadi malam aku bermimpi tentang suatu peristiwa aneh. Aku tidak begitu memahami mimpi itu, tapi aku kira mimpi itu tentang sebuah perayaan ulang tahun. Ya.... mimpi itu tentang perayaan ulang tahun anak kita, Yesus. Jauh hari sebelum hari ulang tahun itu, semua orang sudah bersiap-siap untuk menyambutnya. Mereka menghias rumahnya, serta membeli pakaian baru. Mereka pergi berbelanja untuk membeli berbagai macam kado. Satu hal yang mengherankan, aku rasa tak satupun kado-kado itu yang dibeli untuk anak kita. Mereka membungkus kado-kado itu dengan kertas yang bagus dan mengikatnya dengan pita yang sangat indah, lalu mereka meletakkannya di bawah suatu pohon. Ya... Yosef.... di bawah suatu pohon yang diletakkan di dalam rumah mereka! Pohon itu dihias dengan meriah. Pada cabang-cabangnya tergantung berbagai hiasan yang sangat indah, bahkan ada lampu yang selalu berkelap-kelip melingkari pohon tersebut. Pada bagian paling atas, ada sebuah boneka yang mirip seperti malaikat. Oh.... semuanya sangat indah..... setiap orang tertawa, bercanda, dan bergembira. Mereka sangat bergembira melihat kado-kado itu. Setiap orang sekurang-kurangnya mendapat sebuah kado dari orang yang lain. Satu-satunya yang tidak mendapat kado ialah anak kita, Yosef. Aku rasa mereka tidak pernah mengenal anak kita..... mereka juga tidak pernah menyebut nama anak kita. Apakah menurutmu tidak aneh, Yosef, jika mereka begitu sibuk merayakan ulang tahun seseorang, padahal mereka tidak mengenal orang itu? Aku bahkan yakin bahwa jika anak kita datang pada perayaan itu, maka kedatangannya akan merusak suasana. Segalanya begitu indah, Yosef, dan semua orang tampak bergembira, tapi hal itu membuatku ingin menangis...... Alangkah sedihnya bagi Yesus anak kita, karena Ia dilupakan pada saat hari ulang tahunnya sendiri.... Untunglah semuanya itu hanya ada dalam mimpiku. Sungguh menyedihkan, Yosef, jika hal itu menjadi kenyataan ....

Dua Bayi Dalam Palungan

Di tahun 1994, dua orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara, kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan di sebuah tempat yatim piatu yang besar. Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. Beginilah kisah dalam kata-kata mereka:

Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Yusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi ke sebuah kandang binatang, di mana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan.

Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa di antaranya bahkan duduk di ujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai cerita, semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka di kota ini.

Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan itu jerami kuning di palungan. Potongan kecil kain flanel digunting dari gaun malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia - dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Boneka mirip bayipun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika.

Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba di meja si kecil Misha (seorang anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya. Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi di dalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi.

Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius. Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya - sampai pada bagian kisah di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian:


“Sewaktu Maria menaruh bayi itu di palungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang Majus dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah.”

“Jadi aku bertanya pada Yesus, 'Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?' Dan Yesus menjawab, 'Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.' Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya - untuk selamanya.”

Saat si kecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ditutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja dan seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu. Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat jahat padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya - untuk selamanya.

Para Kudus bulan Desember

01 Dionisius dan Redemptus a Cruce, Adrianus dan Natalia,Eligius, Edmund Campion

02 Bibiana

03 Fransiskus Xaverius

04 Barbara, Kristian, Osmund,Yohanes dari Damsyik

05 Sabas, Reinardus

06 Nikolas dari Myra

07 Ambrosius

09 Fransiskus Antonius, Juan Diego,Petrus Fourier, Abel

10 Miltiades

11 Damasus

12 Yohanna Fransiska Fremio de Chantal,Hoa

13 Lusia, Odilia/Ottilia

14 Yohanes dari Salib, Spiridion,Venantius Fortunatus

15 Kristiana, Nino

16 Sturmius, Teofanu, Adelaide

17 Lazarus, Olympias

18 Makrina Muda

19 Nemesio

20 Filigon, Dominikus dari Silos

21 Petrus Kanisius

22 Fransiska Xaveria Cabrini

23 Yohanes dari Kanty,Servulus

24 Adam dan Hawa, Sharbel

25 NATAL; Anastasia

26 Stefanus

27 Yohanes, Rasul dan Pengarang Injil

28 Fabiola

29 Thomas Becket dari Canterbury,Kaspar Del Bufalo,Daud Raja Israel

30 Sabinus, Anysia

31 Melania, Silvester

SANTO Yohanes, RASUL dan PENGARANG INJIL

Santo Yohanes Rasul, anak Zebedeus (Mrk 1:19 dst) berasal dari Betsaida, sebuah dusun nelayan di pantai tasik Genesareth. Ia sendiri seorang nelayan di Galilea. Ayahnya Zebedeus, seorang nelayan yang tergolong berkecukupan. Ibunya Salome tergolong wanita pelayan dan pengiring setia Yesus, bahkan sampai ke bukit Kalvari dan kubur Yesus.
Bersama saudaranya Yakobus dan Petrus, Yohanes termasuk kelompok rasul inti dalam bilangan keduabelasan; ia bahkan disebut sebagai murid kesayangan Yesus (Yoh 21:20). Mereka bertiga (Yohanes, Yakobus dan Petrus) adalah saksi peristiwa pembangkitan puteri Yairus (Mrk 5:37 dst); saksi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung Tabor (Mrk 9:2 dst) dan saksi peristiwa sakratul maut dan doa Yesus di taman Getzemani (Mrk 14:33). Bersama Andreas, Yohanes adalah murid Yohanes Pemandi (Yoh 1:40). Yohanes Pemandi-lah yang menyuruh mereka berdua pergi kepada Yesus dan bertanya: “Rabbi, di manakah Engkau tinggal?” (Yoh 1:36 – 39).
Putera-putera Zebedeus itu terbilang kasar; mereka dijuluki ‘putera-putera guntur’. Bersama Yakobus kakaknya, Yohanes meminta kepada Yesus dengan perantaraan ibunya, agar mereka boleh duduk di sisi kanan-kiri Yesus di dalam kerajaan-Nya nanti. Keduanya pun berani berjanji akan meminum piala sengsara untuk memperoleh hal yang dipintanya itu; tetapi Yesus menjawab bahwa hal itu adalah urusan Bapa-Nya di surga (Mrk 10:35-41).
Nama Yohanes tidak disebutkan di dalam Injil ke-4. Hanya di dalam bab 21, yang secara umum dianggap sebagai tambahan dari waktu kemudian, ditemukan ungkapan “para putera Zebedeus.” Demikian pula ungkapan yang mengatakan “murid yang dicintai Yesus” (ay. 20) baru muncul pada bab 13. Di dalam jemaat purba, Yohanes menempati satu kedudukan sebagai pemimpin (Kis 3-8). Paulus menjuluki dia sebagai “tiang agung/sokoguru Gereja” (Gal 2:9). Di dalam daftar keduabelasan rasul, kedudukannya langsung berada di belakang Petrus. Di dalam tradisi yang lebih muda, ia dikenal sebagai penulis Kitab Wahyu dan Surat-surat pertama sampai ketiga Yohanes. Menurut Wahyu 1:9 ia tinggal di pulau Patmos. Ireneus menulis bahwa Yohanes tinggal dan wafat di Efesus.
Yohanes adalah murid Yesus yang paling setia, bahkan berani mengikuti Yesus sampai ke gunung Kalvari dan mendampingi Bunda Maria sampai di bawah kaki salib Yesus. Di bawah kaki salib itulah ia diserahi tugas oleh Yesus menjadi pengawal Bunda Maria (Yoh 19:37). Sejak Pentekosta ia bekerja bersama dengan Petrus, baik di Yerusalem maupun di Samaria untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang baru dipermandikan.
Kira-kira pada tahun 60 ia pergi ke Asia Kecil dan menjadi Mahauskup di kota Efese. Dalam Kitab Wahyu diterangkannya bahwa ia dibuang ke pulau Patmos karena agama dan ajaranNya. Sepulangnya ke Efese ia mengarang Injilnya. Dari buah karangannya kita dapat mengatakan bahwa Yohanes adalah seorang teolog yang karangan-karangannya berisi refleksi dan ajaran teologis yang mendalam tentang Yesus dan karya perutusan-Nya.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, kotbah Yohanes hanyalah berupa wejangan-wejangan singkat yang sama saja: “Anak-anakku, cobalah kamu saling mencintai.” Atas pertanyaan orang-orang serani, mengapa ajarannya selalu yang sama saja, ia menjawab: “Sebab itulah perintah Tuhan yang utama, dan jikalau kamu melakukannya, sudah cukuplah yang kamu perbuat.” Santo Yohanes adalah Rasul terakhir yang meninggal dunia kira-kira pada tahun 100, pada masa pemeritahan Kaisar Trayanus. (dhl)

dari Wilayah IV..

Pada hari Senin tanggal 1 Desember 2008, diadakan misa syukuran atas pemindahan dan pemugaran makam keluarga besar Rahail bertempat di rumah ibu Maria Rahail, wilayah IV. Misa dipimpin oleh romo paroki Veteran, Romo Simon, dimulai sekitar pukul 19:30 wita dengan dihadiri oleh kurang lebih 40 orang anggota wilayah IV termasuk anak-anak.Misa mengambil bacaan pertama dari 1 Korintus 15: 20-22 “Kebangkitan Kita” dan bacaan Injil dari Injil Yohanes 14: 1-6 “Rumah Bapa”. Dalam homilinya Romo Simon menjelaskan bahwa setiap orang di dunia ini pasti mengalami kelahiran dan kematian. Banyak orang merasa takut akan kematian. Orang Katolik percaya bahwa ada kebangkitan setelah kematian, sama seperti Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati. Orang Katolik juga percaya adanya api penyucian yang merupakan pembersihan dosa-dosa kita sebelum masuk ke surga bersama Allah. Orang-orang yang berada di api penyucian tidak dapat meminta tolong kepada kita yang masih hidup di dunia ataupun kepada orang-orang yang telah masuk ke surga untuk mendoakan mereka, oleh karena itulah penting bagi kita yang masih hidup ini mendoakan mereka agar mereka dapat masuk ke surga, dengan harapan jika suatu saat nanti mereka yang berada di api penyucian telah masuk ke surga mereka juga akan berdoa bersama para kudus di surga untuk mendoakan yang masih berada di api penyucian dan kita yang hidup di dunia ini. Kita tidak seharusnya takut kepada kematian, karena kematian merupakan suatu awal bagi kehidupan yang baru. Seusai misa ada acara ramah tamah, kemudian sekitar pukul 21:30 wita anggota wilayah IV pulang ke rumah masing-masing. (dhl)

Rekonsiliasi


Yesus Kristus adalah dokter jiwa dan tubuh kita. Ia telah mengampuni dosa orang lumpuh dan memulihkan kesehatannya. Yesus menghendaki supaya gereja melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatanNya dengan bantuan Roh Kudus. Karya ini juga dibutuhkan oleh anggota-anggota gereja sendiri. Untuk itu ada dua sakramen penyembuhan: Sakramen Pengakuan dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Bagaimana caranya melakukan tobat hati setiap hari?
Pertobatan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui perbuatan perdamaian, kepedulian terhadap orang miskin, pelaksanaan dan pembelaan keadilan dan hukum, pengakuan kesalahan sendiri, teguran persaudaraan, pemeriksaan cara hidup sendiri, pemeriksaan batin, bimbingan rohani, penerimaan sengsara dan ketabahan dalam penghambatan demi keadilan. Setiap hari memikul salibnya dan mengikuti Kristus adalah jalan paling aman untuk pertobatan.

Bagaimana orang menerima sakramen pengakuan pada masa kini?
Ada tiga cara untuk menerima sakramen ini dalam gereja masa kini. Pertama, pengakuan dosa untuk penitent perorangan, sebagaimana praktek pengakuan yang lazim. Kedua, tobat yang dapat diselengarakan secara bersama dalam ibadat tobat, yang juga merupakan pengakuan dosa individual. Ketiga, anggota gereja dapat menerima rahmat penebusan dosa lewat absolusi umum. Tetapi, bentuk terakhir ini hanya diizinkan dalam kasus-kasus yang darurat.

Apa yang menyebabkan orang bertobat dan menjadi anggota gereja?
Pertobatan adalah masalah rahmat dan karunia Allah. Hendaknya ingat, Yesus mengatakan bahwa bukan kita yang memilih Dia, melainkan Dialah yang memilih kita. Agama tidak sama seperti mode atau gaya, juga bukan masalah pilihan logis semata. Agama berhubungan dengan misteri Allah menghampiri kita dan menawarkan kasih dan penyelamatan Ilahi. Kita kemudian memilih, dengan bantuan rahmat Roh Kudus, untuk menjawab dalam iman atas tawaran Allah itu. Kerap kali kita mengalami tawaran ini dalam lingkup keluarga, lingkup orang-orang yang kita kasihi, pasangan atau dalam diri anggota-anggota gereja yang membangkitkan semangat iman. Sebagai orang katolik, jawaban iman kita terhadap panggilan Allah diwujudnyatakan dengan menerima pribadi dan ajaran Yesus, menjadi anggota gereja yang aktif, ambil bagian secara aktif dalam sakramen-sakramen dan memberi kesaksian moral Kristiani dalam kehidupan pribadi kita dan dalam tatanan sosial.

Apa yang kita lakukan bila tidak menyetujui beberapa kegiatan dari persekutuan gereja kita?
Ketika kita mau mengeritik hidup persekutuan, ingatlah selalu akan nasehat Yesus bahwa kita hendaknya “mengeluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu” (Mat 7:5) Kita hendaknya ingat bahwa kita tidak hidup dalam suatu kelompok yang sempurna dalam persekutuan Gereja. Kita semua adalah pendosa dan peziarah yang sedang berjalan menuju kehidupan moral dan spiritual yang lebih baik.Kadang-kadang memang banyak prakarsa baik yang dihayati oleh persekutuan lain yang tidak sependapat dengan kata. Keadaan demikian memaksa kita untuk tetap membina kesabaran, kasih dan pengertian. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa suatu waktu kita juga akan mengharapkan sikap toleransi yang sama dari anggota-anggota persekutuan yang lain. Akhirnya, ada beberapa hal yang mendasar yang melekat pada hakekat dan tugas perutusan gereja yang tidak dapat tidak orang menyetujuinya, seperti ajaran gereja yang otoritatif mengenai doktrin-doktrin (misalnya doktrin tentang Inkarnasi dan penebusan) dan kesusilaan (misalnya aborsi, homoseksualitas dan kontrasepsi buatan).
oleh : Alfred McBride O.Praem

”Bersih-bersih......”

Pengakuan dosa? Dulu, pada saat saya masih kecil, waktu masih di SD, biasanya saya mengaku dosa karena disuruh oleh guru-guru di sekolah, yah, yang pastinya dengan terpaksa, daripada nilai agama saya jelek. Beranjak lebih dewasa, saat dosa-dosa mulai bertambah banyak, saya juga masih sering merasa terpaksa mengaku dosa, bahkan pada saat saya aktif di paroki pada tahun 1999, beberapa waktu sesudah itu pun saya masih malas mengaku dosa. Biasa, alasan-alasan klasik, seperti malu sama romonya, takut dosa-dosanya ntar diomongin ke orang lain, takut ntar diinget-inget sama romonya, dll.

Sampai akhirnya, saya mengikuti retret pada tahun 2001, di mana dalam retret itu kita disarankan mengaku dosa sebelum melakukan pencurahan Roh Kudus. Saat itu pun, dalam hati saya, saya ingin mencari romo yang agak tua saja, dengan asumsi kalau romonya tua kan pendengarannya agak berkurang, biar tidak ketahuan dosanya.. hehehe.. Tapi Tuhan memang luar biasa, kalau kita punya rencana busuk, pasti langsung dicuci habis sama Tuhan.. Ternyata pas saya masuk kamar pengakuan, romonya masih muda dan segar (dan pastinya pendengarannya masih bagus, waduhh...). Di kamar pengakuan itu rupanya tidak hanya mengaku dosa saja, tetapi ada konseling singkatnya juga. Akhirnya dengan berjuang segenap tenaga, saya baru kali itu bisa mengaku dosa yang benar-benar mengaku dosa... Maklum, sebelumnya kalau mengaku dosa masih suka kasih diskon, alias tidak pernah mengakukan semua dengan jujur... (sstt... jangan bilang-bilang ya..).

Dari sana, saya mulai mengalami keajaiban Tuhan, entah kenapa, setelah melakukan pengakuan dosa yang ”full-version” itu, tiba-tiba mendadak, saya benar-benar seperti mengalami kelegaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan tiba-tiba setelah itu, yang pastinya dengan bantuan Roh Kudus juga, saya mulai senang melakukan pengakuan dosa, biasanya maksimal 3 bulan sekali dan minimal 1 bulan sekali. Ternyata kalau kita sering mengaku dosa, rohani kita pun bisa lebih segar. Saya juga baru tersadar, masa sih kalau cuaca panas, kita berkeringat, mandi bisa 3-4x sehari, padahal itu hanyalah fisik jasmani kita. Bagaimana dengan rohani kita, masa mandinya cuma 2x setahun, biasanya pas mau Natal dan Paskah? Ihhh… bau kan, akhirnya rohaninya jadi be-te deh…

Yang lebih menarik lagi, alasan-alasan yang dulu membuat saya tidak mau mengaku dosa sudah tidak lagi menjadi penghalang. Malu sama romo? Saya pikir buat apa malu sih, toh juga yang namanya dosa manusia juga hanya seputar itu-itu saja, dari jaman onta belum bongkok ya tidak pernah bertambah. Takut rahasia pengakuannya bocor? Ya, biar saja, itu kan urusan dosa romo ke Tuhan. Lagian, kebetulan dosa saya masih yang umum-umum saja kok, belum yang aneh-aneh (duh, sombongnya… sepertinya saya harus mengaku dosa lagi nih, hehehe…). Lagipula, sebelum pengakuan, biasanya saya juga berdoa untuk romonya supaya bisa membimbing dengan baik, dan punya karunia lupa akan dosa saya… hehehe. Takut diinget sama romonya? Waduh, untungnya saya belum setenar Tom Cruise, jadi tidak mungkin lah, romonya ingat dosa-dosa saya… Baiklah, ini dulu cerita saya…

Oya, apalagi menjelang Natal seperti ini, yuk bersih-bersih, yuk ngaku dosa, dan selamat merasakan sensasinya… (ign)
sumber :Bp. Ignatius N.I. – Wilayah IV

Rabu, 17 Desember 2008

informasi khusus

PETUGAS LITURGI HARI RAYA NATAL - 24 des'08
Komentator Sdri. Elizabeth Lisa ( Wil. V Kom Gatot I )
Lektor I Sdr. Yohanes Rudini ( Wil. III Kom 2 )
Lektor II Sdri. Novia Firman ( Wil. I Kom 1 )
Maklumat Sdri. Lusiameita R ( Wil. V kom. Pramuka )
Doa Umat Ibu Theresia Siti ( Wil. II Kom. A. Yani )
Kolekte Bapak - bapak & ibu - ibu paroki

Pembawa persembahan
Doa-Bp. Tukirin, Sibori-F.X.Rinaldy Rantjiu, Lilin-Yosef Yonathan dan Veronika Vina, Bunga-Rully, Buah-Leonardus A, Piala-Clara V. Elsye, kolekte-Yosep Sumardi dan Maria Magdalena

informasi

JADWAL IBADAT DAN PENGAKUAN DOSA
pada tanggal 17-19 Desember 2008
dimulai pada pukul 18.00 WITA atau jam 6 sore

Jumat, 12 Desember 2008

informasi

Baptisan Bayi
1. Benediktus Audricho Deonathan Kuenang
2. Teresa Vionna Budiyanto
3. Hilaria Quincy Ophelia Tanoto

Defunctorum
1. Elisabeth Sinariawati
2. Bernardus Ariffin Wisanaria
3. Simon Atmadjaja Halim

Sakramen Perminyakan
1. Elisabeth Sinariawati
2. Simon Atmadjaja Halim

Pasangan yang menikah di bulan November 2008
1 November 2008
Petrus Ifan Tanujaya et Elen
8 November 2008
Andreas Leonard Tanu et Sesilia Rita Subianto
23 November 2008
David Djayadi et Stephanie Fenny Wira Kusma
28 November 2008
Emmanuel Soa Muga et Kharisna Dewi Peranto

Pasangan yang akan menikah di bulan Desember 2008
27 desember 2008
Yohanes Dedy Purwanto et Sesilia Halim
28 desember 2008
Antonius Arief Sofyan Hardjadinata et Maiana Liem
Fransiskus Siswandy et Agnes Fransiska Lily Kwee

Legio Mariae : perpisahan...

Pada hari senin, 24 Nov 2008, anggota Legio Maria Banjarmasin yang meliputi paroki Katedral, Kelayan dan Veteran, mengadakan pertemuan dengan bapak Uskup Emiritus FX. Prajasuta di Ventigmilia jalan Gatot Subroto, Banjarmasin. Pertemuan dimulai pada jam 19.30 wita dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh saudara Yosef.
Pertemuan tersebut merupakan acara perpisahan dengan bapak uskup, sebelum beliau kembali ke Yogyakarta. Dalam acara tersebut, bapak uskup menjelaskan betapa penting peranan legio maria bagi kehidupan gereja, dengan doa-doa dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota legio, seperti kunjungan ke orang sakit, kunjungan ke orang yang tersisih dari masyarakat. Dari kegiatan tersebut orang yang dikunjungi akan merasa bahagia karenamerasa diperhatikan, dikasihi dan berharga bagi orang lainsehingga orang tersebut mengalami kasih Tuhan yang menyembuhkannya. Bapak uskup menekankan pentingnya doa, tidak ada kekuatan yang dapat melebihi kekuatan doa yang diucapkan dari dalam hati.
Dalam acara tersebut, bapak uskup juga menyampaikan agar kita sebagai orang katolik harus berani dalam bertindak benar. Orang yang melakukan suatu tindakan kejahatan memang orang jahat, tetapi orang baik yang tahu akan tindakan kejahatan dan membiarkannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa adalah orang yang paling jahat.
Selesai mendengarkan penjelasan bapak uskup, anggota legio maria makan bersama dengan bapak uskup. Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, setelah itu pulang kerumah masing-masing, yang sebelumnya ditutup dengan doa dan berkat dari Allah melalui bapak uskup. Selamat jalan monsinyur, terima kasih untuk telah memberikan perhatian kepada kami, para legioner... Tuhan memberkati. (dhl)

Kamis, 11 Desember 2008

REKONSILIASI

Berbicara soal rekonsiliasi, tentunya tidak bisa lepas dari persoalan praktek pengakuan dosa, yang sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Akan tetapi beberapa tahun terakhir ini tampaknya Sakramen Tobat ini dirasakan kurang diminati dan tampaknya tidak lagi mendapat perhatian. Apakah Sakramen Tobat sudah tidak menjadi kebutuhan umat beriman di jaman sekarang? Kalau dihitung-hitung dengan prosentase dari seluruh umat Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus – Veteran – Banjarmasin ini, maka didapatkan hasil seperti ini, umat yang:
Mengaku dosa pribadi: 20% ; Mengikuti ibadat tobat bersama: 45% ; Mengikuti ibadat tobat bersama dan pengakuan pribadi: 50% ; Tidak melakukan ibadat bersama/pribadi: 30%. Lain halnya dengan anak-anak sekolah yang karena diharuskan, maka hampir bisa dipastikan bahwa semua murid yang katolik baik SD maupun SMP mengikuti ibadat tobat bersama dan melanjutkannya dengan pengakuan dosa secara pribadi. Sekalipun dalam realitasnya ada juga anak murid yang tidak mempraktekkannya (prosentase 98% : 2%), praktek semacam itu masih baik untuk dijalankan, walaupun dirasa ada unsur yang agak sedikit memaksa. Dengan demikian kita harus juga tetap menjaga agar praktek pengakuan dosa ini memiliki kualitas yang baik dan memiliki nilai moral yang tinggi.
Secara jujur kalau kita melihat realitas yang ada saat ini, sebagai anggota Gereja rasanya kita perlu sekali mencermati kembali praktek pengakuan dosa kita, khususnya di paroki kita sendiri. Adapun maksud kita adalah untuk membenahi diri dan mawas diri sambil berjaga-jaga terus menerus untuk menantikan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, supaya ketika Tuhan hadir dan memanggil kita, kita bisa siap dan didapatiNya selalu berjaga-jaga. Oleh karena itu kita memerlukan rekonsiliasi terus menerus, pertobatan tiada henti-hentinya.
Rekonsiliasi seperti apa yang perlu kita wartakan? Kita harus memulai rekonsiliasi ini pertama-tama terhadap diri sendiri dulu, kemudian berturut-turut dengan sesama, alam semesta, dan dengan Tuhan. Kita perlu berdamai terlebih dahulu dengan diri sendiri, karena sumber segala persoalan dalam hidup kita itu sangat tergantung dari cara pandang kita. Kalau kita memandang setiap peristiwa dalam hidup kita secara negatif, maka seluruh penilaian kita terhadap apa yang terjadi hasilnya adalah negatif juga. Sebaliknya bila kita pakai sudut pandang positif, maka hasil akhir dari cara kerja kita adalah positif juga.
Kedua, rekonsiliasi dengan sesama. Rekonsiliasi ini mengandaikan sikap rendah hati dan sudah melewati tahap pertama, yaitu rekonsiliasi dengan diri sendiri. Rekonsiliasi dengan sesama akan menjadi sempurna bila dilakukan dengan menerima Sakramen Tobat secara pribadi, karena kita adalah Gereja, dan sebagai anggota Gereja dosa kita membuat Gereja terluka; sedangkan rekonsiliasi kita memulihkan luka yang ada dan menjadikan relasi kita dengan Allah semakin diteguhkan.
Yang ketiga adalah rekonsiliasi dengan alam semesta. Seringkali kita mengabaikan dan bahkan merusak alam semesta yang kita huni ini secara sadar, tahu dan mau. Oleh karena itu sangat diperlukan rekonsiliasi dari pihak kita terhadap alam ciptaan, agar dengan perdamaian dengan alam semesta, kitapun memperoleh ketenangan karena bisa hidup berdampingan dengan alam semesta.
Keempat adalah rekonsiliasi dengan Tuhan. Tahap ini menjadi puncak dari segalanya. Dasarnya diri sendiri dan puncaknya adalah Tuhan Allah, yang telah terwakili dalam diri Yesus Kristus, yang menerima setiap orang yang mau bertobat dan kembali kepadaNya. Yang menjadi dasar untuk tegaknya Rekonsiliasi dengan Tuhan Yesus adalah sikap kita yang mengakui Kuasa Kasih Allah Bapa yang maha rahim (bdk. Luk 15: 11-32: Cerita perumpamaan anak yang hilang). Allah Bapa yang maha rahim menerima pertobatan dan penyesalan kita.
Apa saja makna Sakramen Tobat? Sakramen Tobat memberikan rahmat kepada kita secara pribadi, sebuah pengampunan atas segala dosa yang telah kita lakukan. Rahmat Pengampunan membawa kita untuk semakin menyadari kelemahan dan kekurangan kita dan serta merta mengakui Kuasa Kasih Allah Bapa yang murah hati kepada kita manusia. Sakramen Tobat menjadi Sarana Rekonsiliasi antara kita dengan Allah (Kristologi), dan antara kita dengan sesama kita (Eklesiologi). Dimensi ini sungguh akan memperkaya kita untuk mengerti arti kesatuan kita sebagai anggota Gereja. Kita ini tubuh dan Allah adalah kepalanya. Bila Sakramen Tobat pribadi dijalankan oleh setiap orang, maka secara pribadi setiap anggota Gereja ikut ambil bagian dalam pemugaran Tubuh Mistik Kristus. Sakramen Tobat adalah sarana kehadiran Allah yang mengampuni dan menyalurkan rahmat kepada setiap orang yang menyesal dan mengakui dirinya berdosa dan mau berbalik mengakui Kuasa Kasih Allah.
Dosa kita akan diampuni apabila dari pihak kita ada pengakuan diri dan penyesalan pribadi, seperti terjadi dalam cerita perumpamaan anak yang hilang, pengakuan si bungsu akan kelemahan dan dosanya (Luk 15:17 “Ia menyadari keadaannya”) lalu ada tindakan penyesalan (Luk 15:21, “Bapa, aku telah berdosa terhadap Sorga dan Bapa….”

Dari Redaksi

Senangnya… sebentar lagi, Natal sudah datang, Tahun Baru pun menjelang... Persiapan apa saja yang sudah Anda buat? Siapa tahu, nanti redaksi gempar berkunjung ke rumah Anda hehehe...

Berbicara mengenai persiapan Natal di masa Adven ini, kita menemukan lagi satu kekayaan gereja Katolik yang sangat luar biasa, yaitu Sakramen Tobat. Kami belajar untuk mulai memanfaatkan harta ini untuk memperkaya rohani kami agar kami bisa memperkaya rohani orang lain juga, seperti melalui tulisan di edisi kali ini. Ada kesaksian dari Bp. Ignatius yang mulai rajin mengaku dosa, pengajaran, dan berita-berita dari komunitas yang mulai tercatat di agenda kami.

Untuk semakin menambah persiapan Natal, kami juga menghadirkan 2 kisah Natal, yang menurut kami sangat menarik. Jangan lewatkan juga komik dan keluarga koster yang dapat menghibur kita.

Manfaatkan informasi seputar paroki dan perayaan Natal dan Tahun Baru yang ada di rubrik informasi untuk menata agenda Anda di akhir tahun ini.

Semoga persiapan kita di akhir tahun ini akan membuat kita menjadi manusia yang semakin bermutu di tahun 2009 yang akan datang. Doakan juga kami, karena di tahun 2009 kami mencoba menghadirkan rubrik baru dengan wajah baru pula. Selamat Adven! (ign)

Seluruh anggota gempar dan gempar online,
Seluruh Umat Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus
mengucapkan

SELAMAT


kepada:

Yang Mulia Mgr. Petrus Boddeng Timang,Pr
untuk Ultah Imamat ke-35 tahun
13 Januari 1974 - 13 Januari 2009

dan

Yang Mulia Mgr. (Em.) Wilhelmus Demarteau, MSF
untuk Ulang Tahun ke-92
24 Januari 1917 - 24 Januari 2009
Panjang Umur dan Sehat Selalu

Doa dan Kasih kami untuk Bapa Uskup Berdua