Sapaan Pastoral dari Rm. Simon, Pastor Paroki Hati Yesus yang Mahakudus, kepada semua umat beriman dalam Yesus Kristus di Veteran – Banjarmasin, dengan para tokoh umat, anggota dewan paroki pleno dan asisten imam. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu sekalian. Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Setiap kali aku berdoa, aku mengingat kamu dan aku berdoa untuk kamu semua dengan suka cita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Gereja kita yang kecil dan mau ditata ini, teristimewa dalam usaha memberitakan Injil Kristus dari awal aku datang di paroki ini sampai sekarang. Untuk itu aku yakin sepenuhnya bahwa Ia, yang telah memulai pekerjaan yang baik di antara kamu ini, akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak barcacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Bdk. Fil 1:1-11).
Banyak terima kasih kepada semua umat yang selalu berusaha untuk memajukan dan mengembangkan serta aktif dalam berbagai kegiatan pastoral paroki dan pelayanan di paroki Hati Yesus Yang Mahakudus. Bapa-ibu, saudara-i sekalian telah berusaha untuk mengembangkan berbagai bidang karya pelayanan pastoral paroki di paroki kita ini. Dalam diri kalian ada banyak juga potensi yang terpendam dan yang belum sempat tergali dan terarahkan. Apalagi setelah Rapat Dewan Paroki Pleno, 15 Agustus 2010 yang lalu beberapa bidang pelayanan pastoral paroki telah menunjukkan kinerja yang luar biasa. Mereka bekerja semaksimal mungkin dan berusaha untuk membenahi berbagai hal sesuai dengan bidangnya, sekalipun hasilnya tidak sesempurna dengan yang diharapkan. Yang penting adalah proses perkembangan dan arah kemajuan yang kelihatan bertahap, sedikit demi sedikit dan terus menerus. Memang tidak semua bidang bergerak aktif bersama seperti yang diharapkan, tetapi paling tidak ada hal yang mendesak dan penting sudah bisa ditangani dan dikerjakan oleh bidang masing-masing. Setiap bidang sudah bertanggung jawab terhadap tugas dan wilayah karya pelayanannya masing-masing. Oleh karena itu saya, sebagai pastor paroki Hati Yesus yang Mahakudus mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya kepada semua umat yang telah menyumbangkan pikiran, waktu, dan tenaga; yang dengan senyum, canda ria, dan kelakar menjalankan karya pelayanan pastoralnya; yang dengan keberanian, ketegasan, dan ketangguhan tetap memperjuangkan hal-hal baik dalam Gereja; selain itu juga untuk mereka yang ketakutan, yang merasa tidak mampu, dan tidak layak, namun tetap berusaha untuk menjalankan tugas karya pelayanannya; serta yang menyumbangkan materi, dana dan miliknya bagi pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan paroki kita. Terima kasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah bekerja semaksimal mungkin untuk pertumbuhan dan perkembangan Gereja kita. Kasih karunia, damai sejahtera dan berkat Allah selalu melimpah dan menyertai anda dan keluarga anda semua.
Selama bulan September, yang keren disebut “Bulan Kitab Suci Nasional” kemarin, saya mendengar bahwa ada komunitas-komunitas yang cukup rajin mengadakan pendalaman Kitab Suci dan juga mengikuti lomba cerdas cermat Kitab Suci yang dilakukan di tingkat paroki. Ada juga komunitas yang mengirimkan anak-anak tingkat SD yang mengikuti lomba drama Kitab Suci. Ada juga komunitas yang melaksanakan pendalaman Kitab Suci dengan peserta campuran; ada komunitas yang saat mengadakan pendalaman iman yang datang dari berbagai unsur: ada bapak-bapak, ibu-ibu dan juga anak-anak. Namun demikian masih ada juga yang belum melaksanakannya. Ada juga yang mempertanyakan tentang pendampingan pendalaman iman di komunitas-komunitas. Ada yang tidak bisa melaksanakan pendalaman dengan alasan tidak mempunyai pemandu pendalaman. Ada juga yang mempertanyakan kenapa pemandunya bukan pastor atau suster. Mendengar semua komentar, masukan dan realitas yang terjadi tersebut saya merasa bahwa umat kita mulai merangkak dan berjalan pelan secara bersama-sama, sekalipun masih ada juga yang ketinggalan karena jalannya melambat. Tetapi tidaklah perlu kawatir karena semuanya akan menjadi baik pada waktunya. Saya percaya Tuhan telah memulai karya baik dalam diri kita masing-masing, pasti Dia akan menyelesaikannya dengan baik juga. Oleh karena itu saya mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan atas kerja dan pelayanan bapak, ibu dan saudara-saudari sekalian yang telah membantu kelancaran kegiatan pendalaman iman dan Kitab Suci di komunitas-komunitas. Ucapan syukur dan terima kasih serta berkat Allah melimpah untuk semua yang menjalankan karya pelayanan pastoral paroki dengan murah hati, rendah hati, gembira dan sukacita, tanpa bersungut-sungut.
Gempar September 2010 telah membicarakan banyak hal tentang pendalaman Kitab Suci dan bagaimana mengenalkan Kitab Suci sejak dini kepada anak-anak kita. Semoga harapan-harapan di bulan lalu sungguh-sungguh sampai kepada kita, umat beriman. Sedangkan gempar edisi Oktober mengajak kita semua untuk semakin peka mengenali dan menyikapi fenomena alam yang sedang terjadi di sekitar kita. Dalam realitasnya kita melihat bahwa keadaan alam di bumi kita ini mulai rusak dan hancur, akibat perusakan dan keserakahan manusia. Penambangan secara besar-besaran dan tak terkendali; penebangan kayu liar dan pembabatan hutan; Pembuangan sampah sembarangan dan tidak pada tempatnya yang mencemari lingkungan sekitar. Semua itu mengakibatkan cadangan air bersih mulai menipis; di berbagai tempat, termasuk di tempat kita hutan mulai gundul dan banjir mulai menggenangi berbagai daerah; halaman gereja kita kadang juga sering terendam oleh air hujan yang datang deras sekali. Mengapa semua itu terjadi dan tampaknya Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menyikapi dan memperhatikan fenomena alam di sekitar kita ini?
Pada kesempatan ini saya mengusulkan agar kita memiliki sikap “miskin” dalam menyikapi fenomena alam ini. Adapun kemiskinan yang harus kita rangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan sekitar serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku tapa, matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas-batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita. Dengan tindakan tersebut sebenarnya kita juga menjalankan pesan Paulus yang berbunyi demikian, “Yesus Kristus menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya oleh karena kemiskinanNya kamu menjadi kaya” (II Kor 8: 9).
Bersikap “miskin” seperti apakah yang dapat kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari? Kan tidak ada orang yang mau hidup miskin begitu saja, dalam artian tanpa kekayaan dan harta benda. Kebanyakan semua orang ingin menjadi kaya harta benda dan menghindari kemiskinan. Tetapi mengapa Yesus selalu memihak mereka yang hidup dalam kemiskinan? Apa yang bisa kita teladan dari sikap hidup Yesus itu? Hidup miskin seperti apakah yang mau dimaksudkan oleh Yesus? Haruskah kita menjadi miskin seperti Kristus yang menjadi miskin, sekalipun Ia kaya? Sebagai murid Yesus, tentu kita harus meneladan sikap hidup Yesus. Kita harus mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Saya mengajak semua umat untuk meneladan hidup Yesus yang selalu membela orang miskin dan tertindas. Bersikap “miskin” di hadapan Allah, sesungguhnya dapat berarti demikian:
. bersikap tanggap dan peka terhadap fenomena alam ini. Hendaknya dalam menanggapi dan menyikapi gejala alam dewasa ini kita harus lebih arif dan bijaksana. Sangat tidak arif apabila kita mengeksploitasi hutan dan hasil bumi yang ada ini dengan membabibuta, serakah dan seenaknya. Sikap kita itu sungguh akan mempercepat terjadinya kerusakan alam dan akibatnya akan menimpa kita bersama. Keserakahan kita tersebut akan membuat banyak orang lain menderita sengsara. Akibat-akibat dari keserakahan manusia yang mengeksploitasi kekayaan alam di bumi ini adalah munculnya fenomena alam yang mulai dirasa tidak bersahabat lagi: hutan gundul dan banjir dimana-mana; tanah longsor dan erosi lempengan bumi yang menimbulkan stunami; musim tidak teratur dan hawa panas mulai menyengat; air bersih dan oksigen di bumi mulai berkurang. Sebenarnya bukan karena alamnya yang tidak mau bersahabat, tetapi karena ulah manusianya yang rakus dan mau menguras seluruh harta kekayaan alam itulah yang menyebabkan alam tampak tidak bersahabat. Maka hendaknya kita bersikap tanggap dan peka terhadap fenomena alam di jaman ini dengan lebih memelihara lingkungan sekitar kita.
. bersikap hidup menghormati dan menghargai lingkungan alam sekitar dan kebaikan ciptaan. Orang yang dengan disiplin setiap hari membersihkan halamannya; membuang sampah pada tempatnya; memelihara lingkungan alam dan melestarikannya; pasti akan mencintai alam sekitar dan lingkungan sekitar, selain itu juga akan mudah mengenal gejala alam yang terjadi. Apabila kita bisa bersahabat dengan alam lingkungan di mana kita tinggal, niscaya kita akan sangat akrab dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi, sehingga kita bisa mengenali perubahan-perubahan alam dan mencoba untuk mencegah, menanggulangi dan membuat perkiraan sebelum terjadinya kerusakan alam yang berlarut-larut. Kalau kita mencintai alam sekitar dan kebaikan ciptaan; kalau kita membiarkan bumi dan air, binatang dan tumbuhan dan segala yang bergerak di langit dan di dalam laut berkembang dan tumbuh sesuai siklus hidupnya; dan kalau kita selalu memelihara dan memberi kebebasan alam ciptaan untuk berkembang tanpa merusak dan menguasainya; niscaya bumi kita akan menjadi lebih nyaman dihuni dan tentunya banyak manusia akan menjadi kerasan tinggal di dunia ini.
· bersikap rendah hati dan murah hati dalam karya pelayanan dan tugas hidup kita. Orang yang dengan rendah hati dan murah hati pasti akan menjalankan tugas perutusan dan hidupnya dalam proses dan mengarahkan perjuangan dan pergulatan hidupnya menuju pada sikap arif dan bijaksana. Sikap rendah hati dan murah hati akan membawa seseorang semakin mengenal dirinya sendiri dan membuka wawasan yang lebih luas, sehingga dalam bersikap dan bertindak pasti telah memikirkan akibatnya.
· bersikap hidup sederhana dan tidak boros. Hidup konsumtif, berfoya-foya dan boros karena gengsi dan harga diri akan membuat orang semakin terpuruk, karena mereka mengumbar keserakahan dan tidak bisa mengendalikan diri senidiri. Hidup dalam kebohongan dan angan-angan yang melayang-layang akan membuat orang tidak pernah memijakkan kakinya di bumi. Orang akan bermimpi dan berilusi tentang dirinya sendiri. Oleh karena itu sikap hidup sederhana adalah salah satu bentuk penyelesaian yang paling baik. Dalam kesederhanaan itu kita dilatih untuk mengendalikan dan menguasai diri serta menghargai hidup dengan tujuan dan cita-cita.
· bersikap laku tapa, matiraga dan puasa. Sikap ini sangat membantu kita untuk melatih sikap miskin di hadapan Allah. Kadang dalam menyelesaikan persoalan kita tidak cukup hanya mengandalkan doa-doa saja, ada hal yang sepertinya diperlukan sekali dalam penyelesaian masalah dengan disertai laku tapa, mati raga dan puasa. Usaha untuk mengendalikan nafsu dan mengatur kehendak diri sangat membantu kita untuk memurnikan diri; menjernihkan pikiran; dan menanamkan sikap miskin di hadapan Allah. Sebab dengan kebiasaan melakukan laku tapa, mati raga dan puasa, orang dilatih untuk semakin berani mengoreksi diri atau introspeksi diri; mengenal diri; dan mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu manusiawi yang sering muncul secara tidak teratur dan tanpa direncanakan.
Saudari-saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, semoga usaha-usaha kita untuk memperbaiki diri dan membangun hidup rohani semakin kentara dan berkembang. Jangan lupa juga bahwa di bulan Oktober ini kita dianjurkan oleh Paus Benediktus ke XVI ini untuk setiap hari berdoa Rosario Suci di dalam keluarga, komunitas, dan paroki. Kita berharap agar Bunda Maria selalu mendampingi dan memelihara kita dalam melaksanakan karya dan tugas pelayanan pastoral paroki kita. Tuhan memberkati.