Rabu, 13 Oktober 2010

Bersikap “miskin” di hadapan Allah

Sapaan Pastoral dari Rm. Simon, Pastor Paroki Hati Yesus yang Mahakudus, kepada semua umat beriman dalam Yesus Kristus di Veteran – Banjarmasin, dengan para tokoh umat, anggota dewan paroki pleno dan asisten imam. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu sekalian. Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Setiap kali aku berdoa, aku mengingat kamu dan aku berdoa untuk kamu semua dengan suka cita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Gereja kita yang kecil dan mau ditata ini, teristimewa dalam usaha memberitakan Injil Kristus dari awal aku datang di paroki ini sampai sekarang. Untuk itu aku yakin sepenuhnya bahwa Ia, yang telah memulai pekerjaan yang baik di antara kamu ini, akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak barcacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Bdk. Fil 1:1-11).

Banyak terima kasih kepada semua umat yang selalu berusaha untuk memajukan dan mengembangkan serta aktif dalam berbagai kegiatan pastoral paroki dan pelayanan di paroki Hati Yesus Yang Mahakudus. Bapa-ibu, saudara-i sekalian telah berusaha untuk mengembangkan berbagai bidang karya pelayanan pastoral paroki di paroki kita ini. Dalam diri kalian ada banyak juga potensi yang terpendam dan yang belum sempat tergali dan terarahkan. Apalagi setelah Rapat Dewan Paroki Pleno, 15 Agustus 2010 yang lalu beberapa bidang pelayanan pastoral paroki telah menunjukkan kinerja yang luar biasa. Mereka bekerja semaksimal mungkin dan berusaha untuk membenahi berbagai hal sesuai dengan bidangnya, sekalipun hasilnya tidak sesempurna dengan yang diharapkan. Yang penting adalah proses perkembangan dan arah kemajuan yang kelihatan bertahap, sedikit demi sedikit dan terus menerus. Memang tidak semua bidang bergerak aktif bersama seperti yang diharapkan, tetapi paling tidak ada hal yang mendesak dan penting sudah bisa ditangani dan dikerjakan oleh bidang masing-masing. Setiap bidang sudah bertanggung jawab terhadap tugas dan wilayah karya pelayanannya masing-masing. Oleh karena itu saya, sebagai pastor paroki Hati Yesus yang Mahakudus mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya kepada semua umat yang telah menyumbangkan pikiran, waktu, dan tenaga; yang dengan senyum, canda ria, dan kelakar menjalankan karya pelayanan pastoralnya; yang dengan keberanian, ketegasan, dan ketangguhan tetap memperjuangkan hal-hal baik dalam Gereja; selain itu juga untuk mereka yang ketakutan, yang merasa tidak mampu, dan tidak layak, namun tetap berusaha untuk menjalankan tugas karya pelayanannya; serta yang menyumbangkan materi, dana dan miliknya bagi pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan paroki kita. Terima kasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah bekerja semaksimal mungkin untuk pertumbuhan dan perkembangan Gereja kita. Kasih karunia, damai sejahtera dan berkat Allah selalu melimpah dan menyertai anda dan keluarga anda semua.

Selama bulan September, yang keren disebut “Bulan Kitab Suci Nasional” kemarin, saya mendengar bahwa ada komunitas-komunitas yang cukup rajin mengadakan pendalaman Kitab Suci dan juga mengikuti lomba cerdas cermat Kitab Suci yang dilakukan di tingkat paroki. Ada juga komunitas yang mengirimkan anak-anak tingkat SD yang mengikuti lomba drama Kitab Suci. Ada juga komunitas yang melaksanakan pendalaman Kitab Suci dengan peserta campuran; ada komunitas yang saat mengadakan pendalaman iman yang datang dari berbagai unsur: ada bapak-bapak, ibu-ibu dan juga anak-anak. Namun demikian masih ada juga yang belum melaksanakannya. Ada juga yang mempertanyakan tentang pendampingan pendalaman iman di komunitas-komunitas. Ada yang tidak bisa melaksanakan pendalaman dengan alasan tidak mempunyai pemandu pendalaman. Ada juga yang mempertanyakan kenapa pemandunya bukan pastor atau suster. Mendengar semua komentar, masukan dan realitas yang terjadi tersebut saya merasa bahwa umat kita mulai merangkak dan berjalan pelan secara bersama-sama, sekalipun masih ada juga yang ketinggalan karena jalannya melambat. Tetapi tidaklah perlu kawatir karena semuanya akan menjadi baik pada waktunya. Saya percaya Tuhan telah memulai karya baik dalam diri kita masing-masing, pasti Dia akan menyelesaikannya dengan baik juga. Oleh karena itu saya mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan atas kerja dan pelayanan bapak, ibu dan saudara-saudari sekalian yang telah membantu kelancaran kegiatan pendalaman iman dan Kitab Suci di komunitas-komunitas. Ucapan syukur dan terima kasih serta berkat Allah melimpah untuk semua yang menjalankan karya pelayanan pastoral paroki dengan murah hati, rendah hati, gembira dan sukacita, tanpa bersungut-sungut.

Gempar September 2010 telah membicarakan banyak hal tentang pendalaman Kitab Suci dan bagaimana mengenalkan Kitab Suci sejak dini kepada anak-anak kita. Semoga harapan-harapan di bulan lalu sungguh-sungguh sampai kepada kita, umat beriman. Sedangkan gempar edisi Oktober mengajak kita semua untuk semakin peka mengenali dan menyikapi fenomena alam yang sedang terjadi di sekitar kita. Dalam realitasnya kita melihat bahwa keadaan alam di bumi kita ini mulai rusak dan hancur, akibat perusakan dan keserakahan manusia. Penambangan secara besar-besaran dan tak terkendali; penebangan kayu liar dan pembabatan hutan; Pembuangan sampah sembarangan dan tidak pada tempatnya yang mencemari lingkungan sekitar. Semua itu mengakibatkan cadangan air bersih mulai menipis; di berbagai tempat, termasuk di tempat kita hutan mulai gundul dan banjir mulai menggenangi berbagai daerah; halaman gereja kita kadang juga sering terendam oleh air hujan yang datang deras sekali. Mengapa semua itu terjadi dan tampaknya Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menyikapi dan memperhatikan fenomena alam di sekitar kita ini?

Pada kesempatan ini saya mengusulkan agar kita memiliki sikap “miskin” dalam menyikapi fenomena alam ini. Adapun kemiskinan yang harus kita rangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan sekitar serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku tapa, matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas-batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita. Dengan tindakan tersebut sebenarnya kita juga menjalankan pesan Paulus yang berbunyi demikian, “Yesus Kristus menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya oleh karena kemiskinanNya kamu menjadi kaya” (II Kor 8: 9).

Bersikap “miskin” seperti apakah yang dapat kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari? Kan tidak ada orang yang mau hidup miskin begitu saja, dalam artian tanpa kekayaan dan harta benda. Kebanyakan semua orang ingin menjadi kaya harta benda dan menghindari kemiskinan. Tetapi mengapa Yesus selalu memihak mereka yang hidup dalam kemiskinan? Apa yang bisa kita teladan dari sikap hidup Yesus itu? Hidup miskin seperti apakah yang mau dimaksudkan oleh Yesus? Haruskah kita menjadi miskin seperti Kristus yang menjadi miskin, sekalipun Ia kaya? Sebagai murid Yesus, tentu kita harus meneladan sikap hidup Yesus. Kita harus mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Saya mengajak semua umat untuk meneladan hidup Yesus yang selalu membela orang miskin dan tertindas. Bersikap “miskin” di hadapan Allah, sesungguhnya dapat berarti demikian:

. bersikap tanggap dan peka terhadap fenomena alam ini. Hendaknya dalam menanggapi dan menyikapi gejala alam dewasa ini kita harus lebih arif dan bijaksana. Sangat tidak arif apabila kita mengeksploitasi hutan dan hasil bumi yang ada ini dengan membabibuta, serakah dan seenaknya. Sikap kita itu sungguh akan mempercepat terjadinya kerusakan alam dan akibatnya akan menimpa kita bersama. Keserakahan kita tersebut akan membuat banyak orang lain menderita sengsara. Akibat-akibat dari keserakahan manusia yang mengeksploitasi kekayaan alam di bumi ini adalah munculnya fenomena alam yang mulai dirasa tidak bersahabat lagi: hutan gundul dan banjir dimana-mana; tanah longsor dan erosi lempengan bumi yang menimbulkan stunami; musim tidak teratur dan hawa panas mulai menyengat; air bersih dan oksigen di bumi mulai berkurang. Sebenarnya bukan karena alamnya yang tidak mau bersahabat, tetapi karena ulah manusianya yang rakus dan mau menguras seluruh harta kekayaan alam itulah yang menyebabkan alam tampak tidak bersahabat. Maka hendaknya kita bersikap tanggap dan peka terhadap fenomena alam di jaman ini dengan lebih memelihara lingkungan sekitar kita.

. bersikap hidup menghormati dan menghargai lingkungan alam sekitar dan kebaikan ciptaan. Orang yang dengan disiplin setiap hari membersihkan halamannya; membuang sampah pada tempatnya; memelihara lingkungan alam dan melestarikannya; pasti akan mencintai alam sekitar dan lingkungan sekitar, selain itu juga akan mudah mengenal gejala alam yang terjadi. Apabila kita bisa bersahabat dengan alam lingkungan di mana kita tinggal, niscaya kita akan sangat akrab dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi, sehingga kita bisa mengenali perubahan-perubahan alam dan mencoba untuk mencegah, menanggulangi dan membuat perkiraan sebelum terjadinya kerusakan alam yang berlarut-larut. Kalau kita mencintai alam sekitar dan kebaikan ciptaan; kalau kita membiarkan bumi dan air, binatang dan tumbuhan dan segala yang bergerak di langit dan di dalam laut berkembang dan tumbuh sesuai siklus hidupnya; dan kalau kita selalu memelihara dan memberi kebebasan alam ciptaan untuk berkembang tanpa merusak dan menguasainya; niscaya bumi kita akan menjadi lebih nyaman dihuni dan tentunya banyak manusia akan menjadi kerasan tinggal di dunia ini.

· bersikap rendah hati dan murah hati dalam karya pelayanan dan tugas hidup kita. Orang yang dengan rendah hati dan murah hati pasti akan menjalankan tugas perutusan dan hidupnya dalam proses dan mengarahkan perjuangan dan pergulatan hidupnya menuju pada sikap arif dan bijaksana. Sikap rendah hati dan murah hati akan membawa seseorang semakin mengenal dirinya sendiri dan membuka wawasan yang lebih luas, sehingga dalam bersikap dan bertindak pasti telah memikirkan akibatnya.

· bersikap hidup sederhana dan tidak boros. Hidup konsumtif, berfoya-foya dan boros karena gengsi dan harga diri akan membuat orang semakin terpuruk, karena mereka mengumbar keserakahan dan tidak bisa mengendalikan diri senidiri. Hidup dalam kebohongan dan angan-angan yang melayang-layang akan membuat orang tidak pernah memijakkan kakinya di bumi. Orang akan bermimpi dan berilusi tentang dirinya sendiri. Oleh karena itu sikap hidup sederhana adalah salah satu bentuk penyelesaian yang paling baik. Dalam kesederhanaan itu kita dilatih untuk mengendalikan dan menguasai diri serta menghargai hidup dengan tujuan dan cita-cita.

· bersikap laku tapa, matiraga dan puasa. Sikap ini sangat membantu kita untuk melatih sikap miskin di hadapan Allah. Kadang dalam menyelesaikan persoalan kita tidak cukup hanya mengandalkan doa-doa saja, ada hal yang sepertinya diperlukan sekali dalam penyelesaian masalah dengan disertai laku tapa, mati raga dan puasa. Usaha untuk mengendalikan nafsu dan mengatur kehendak diri sangat membantu kita untuk memurnikan diri; menjernihkan pikiran; dan menanamkan sikap miskin di hadapan Allah. Sebab dengan kebiasaan melakukan laku tapa, mati raga dan puasa, orang dilatih untuk semakin berani mengoreksi diri atau introspeksi diri; mengenal diri; dan mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu manusiawi yang sering muncul secara tidak teratur dan tanpa direncanakan.

Saudari-saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, semoga usaha-usaha kita untuk memperbaiki diri dan membangun hidup rohani semakin kentara dan berkembang. Jangan lupa juga bahwa di bulan Oktober ini kita dianjurkan oleh Paus Benediktus ke XVI ini untuk setiap hari berdoa Rosario Suci di dalam keluarga, komunitas, dan paroki. Kita berharap agar Bunda Maria selalu mendampingi dan memelihara kita dalam melaksanakan karya dan tugas pelayanan pastoral paroki kita. Tuhan memberkati.

Opini Umat

Penampakan Bunda Maria

adalah sebuah Fenomena Alam?

(oleh:Emawonly)


Di suatu tempat di sebuah pedesaan di pinggir jalan terpancang sebuah papan dengan tulisan dan sebuah batu terikat bergantung disampingnya. Nampak judul di papan tersebut adalah “Serpent River Weather Station” dan bertuliskan:

jika batu ini basah – cuaca hujan
jika batu ini bergoyang – cuaca berangin
jika batu ini panas – cuaca cerah/panas
jika batu ini dingin – cuaca berawan
jika batu ini putih – cuaca bersalju
jika batu ini biru – cuaca dingin
jika batu ini hilang – TORNADO!!!
(NN)

Saudara pembaca Gempar yang setia, Tornado adalah salah satu fenomena alam yang pernah terjadi di dunia ini selain letusan gunung berapi, dan tsunami, yang dapat menelan jiwa manusia. Fenomena alam lain yang dianggap tidak berbahaya adalah hujan dan aurora serta pelangi. Walau hujan sebenarnya dapat menyebabkan banjir dan memusnahkan segalanya, namun banjir bukan fenomena alam sebab seringkali terjadinya banjir sebab ulah/keserakahan manusia. Fenomena alam adalah peristiwa non-artifisial dalam pandangan fisika, dan kemudian tak diciptakan oleh manusia, meskipun dapat mempengaruhi manusia. Kata Fenomena berasal dari bahasa Yunani; phainomenon, yang berarti "apa yang terlihat" (Wikipedia).

Lantas adanya kejadian penampakan Bunda Maria di beberapa belahan dunia ini apakah termasuk fenomena alam karena tidak diciptakan manusia dan karena secara fakta terlihat oleh pancaindera? Boleh dikatakan ”ya” bila sesuai dengan definisi fenomena alam ini, atau bagaimana bila kita sebut sebagai fenomena alam yang rohani? dan lantas bagaimana sikap iman/gereja Katolik menanggapi hal ini?

Komentar Teologis tentang penampakan Bunda Maria adalah bahwa itu adalah suatu wahyu pribadi, bukan wahyu umum dan walau Gereja mengakui wahyu-wahyu pribadi ini dan membenarkan isi pesan-pesan yang disampaikan, namun wahyu-wahyu pribadi ini tidak menambah ataupun melengkapi warisan iman. Berdasarkan keadaan Gereja pada saat wahyu pribadi disampaikan, pesan-pesan tersebut hanya mengilhami orang untuk hidup lebih taat dan setia, serta mendorong orang untuk semakin mendekatkan diri pada Kristus (Vatikan).

Juga Bapa Suci Yohannes Paulus II, pernah menekankan bahwa wahyu pribadi tidak menambah, tidak bertentangan, ataupun mengurangi warisan wahyu yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci; walau demikian, sungguh wahyu pribadi ini menggerakkan umat beriman untuk memberikan perhatian dan mengamalkan pesan warisan wahyu itu. Wahyu pribadi tidak pernah boleh disejajarkan dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Bahkan jika Gereja telah memberikan pengakuan resmi terhadap suatu wahyu pribadi (yang berarti bahwa wahyu pribadi tersebut tidak bertentangan dengan warisan wahyu dalam hal iman ataupun moral, bahwa isinya dapat disebarluaskan, dan bahwa umat beriman dapat mempercayainya dengan hati-hati dan bijaksana), umat beriman tidak wajib mempercayai wahyu pribadi tersebut. Seorang beriman Katolik dipanggil untuk meyakini iman sesuai warisan iman dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci, bukan malah menomor duakan Kitab Suci dan Tradisi Suci; serta menjadikan Yesus Kristus sebagai tumpuan hidup kita.

Amin Saudara?

Opini Umat

IDE “GILA” UNTUK DUNIA BARU

Oleh: Biantara W

Ide fenomena alam yang sering diberitakan bulan September, membuat semua orang sadar akan kekuasaan Tuhan di alam semesta ini. Banyak yang mengatakan bahwa itu peringatan dari Allah. Teguran kepada setiap insan manusia ,agar kembali ke jalan Tuhan. Tuhan mengingatkan manusia akan segala perbuatannya. Satu kata yang terpikir dan terlontar dari mulut manusia yaitu TOBAT. Bertobat atau mohon ampunan atas segala dosa. Tapi sayang seribu sayang, tobat yang dilakukan hanya sebatas tindakan yang terakhir dilakukan. Koreksi hanya pada perjalanan hidup yang pendek. Koreksi hanya sebatas pada tindakan bukan pada hati. Akhirnya pertobatan yang dilakukan hanya bersifat semu dan tidak bertahan lama. Setelah lupa akan teguran Tuhan maka manusia akan kembali sifat yang ingin enaknya saja. Ingat akan sabda Tuhan yang mengatakan “ …sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk” (Kel 32:9)

Jika kita lihat pada kitab suci perjanjian lama. Setiap kali manusia selalu memalingkan wajah dari Allah. Setiap kali pula Allah mengutus seseorang untuk mengingat manusia yang telah keluar jalur. Akankah manusia jaman ini kembali lagi pada jaman dulu? Sebenarnya fenomena alam baik itu berupa bencana maupun sesuatu hal yang tak lazim, dapat terjadi bukan hanya dari cara hidup yang salah tapi dari moral yang amburadul. Kesadaran hidup yang baik bersumber pada moral yang baik pula. Moral yang baik bersumber dari ajaran Tuhan, yaitu tak lain dari Kitab Suci. Moral yang baik tidak dapat terbentuk begitu saja, tapi memerlukan sebuah proses yang panjang. Jika seseorang memiliki moral yang baik, tentunya setiap tindakan selalu dipikirkan dahulu akibatnya. Orang tidak lagi membuang sampah di sungai, tidak lagi mengeksploitasi hutan secara membabi buta hanya demi keuntungan pribadi, tidak akan lagi ikutan KKN. Setiap tingkah laku dan tutur katanya akan mencerminkan kepunyaan Allah. Kemudian apa yang harus dilakukan agar dapat membentuk moral yang baik?

Kapan pendidikan moral itu dilakukan? Menurut penelitian, usia 0-18 tahun adalah usia manusia membentuk kepribadiannya.membentuk karakter dirinya. Pada usia inilah disebut usia emas. Usia prasekolah yang paling berperan adalah keluarga. Bayi yang kelihatannya tidur melulu tapi dia mempunyai kemampuan mendengar, merasakan sentuhan. Alangkah baik jika setiap bayi dari keluarga kristiani senantiasa diajak ke gereja, diperdengarkan lagu- lagu rohani. Selanjutnya bertambah usia, dapat di dongengkan kisah para nabi. Semuanya itu akan membekas dalam hatinya sampai tutup usia. Jika sudah masuk ke masa sekolah, binaan rohani ini dilakukan dengan koordinasi beberapa pihak. Yaitu sekolah, guru agama, paroki, dan awam. Koordinasi inilah akan membentuk sebuah gerakan dinamis membentuk pribadi manusia intelek,terampil dan memiliki moral dari imannya.

SEKOLAH

Saat ini sekolah katolik hanya berorientasi pada prestasi belajar dan menambahkan ketrampilan. Agama hanya diajarkan sebatas teori. Karena pelajaran agama terlalu sulit untuk dimengerti maka ditambahkan lagi pelajaran budi pekerti. Betapa kasihan anak2 jaman sekarang, yang terus dijejali ilmu tanpa diberi kesempatan untuk melihat contoh. Kemudian apa gunanya nilai sempurna pada pelajaran agama jika tidak tahu prakteknya? Seandainya ( hanya angan-angan penulis ) sekolah katolik membagi sistem pengajaran agamanya dengan penilaian 50% penguasaan teori dan 50% praktek. Setiap anak selain belajar juga diwajibkan memilih salah satu kegiatan di paroki (SEKAMI, MISDINAR, MUDIKA, dll)sebagai nilai eskul. Apalagi jika anak tersebut juga diwajibkan mengikuti kegiatan di setiap komunitas (PENDALAMAN IMAN, ROSARIO, PENDALAMAN KITAB SUCI) sebagai bentuk sosialisasi anak yang kemudian menjadi penilaian . Sudahkah sekolah katolik memikirkan hal ini?

GURU AGAMA

Guru agama sering menjadi tumpuan harapan para keluarga agar anak-anaknya memiliki pengetahuan agama yang benar. Tentu ini akan menjadi sebuah tanggungjawab yang berat. Apalagi guru agama katolik yang mengajar pada pada sekolah non katolik. Hasilnya tidak mungkin sebagus anak-anak yang belajar di sekolah katolik. Guru agama yang mengajar di sekolah katolik tentu tidak kesulitan jika sekolah menerapkan seperti ide diatas. Lantas, guru yang mengajar di sekolah non katolik dapat memasukan ide tersebut sebagai pekerjaan rumah utama yang berpengaruh pada nilai. Pelajaran agama tidak hanya didapat dari guru saja bukan, bisa dari ortu, pastur, suster, biarawan-biarawati, pemandu di komunitas. Jadi ( cobalah ) mengajar agama tidak selalu berorientasi pada teori saja. Memang sih pendidikan agama bukan tugas utama guru. Tapi anak-anak sering menurut pada guru daripada orangtua, karena apa? Karena takut nilai jelek terus tidak naik kelas. Guru diharapkan menjadi pelopor agar anak itu mau belajar Kitab Suci dan menjalankannya. Awalnya, anak akan merasa terpaksa tetapi lambat laun mereka akan belajar dari lingkungan itu dan terus menjadi terbiasa. Syukur-syukur bisa berubah menjadi kerinduan.

PAROKI

Paroki tentu sebagai pusat semua pengetahuan mengenai Kitab Suci. Hendaknya paroki terus memunculkan kegiatan-kegiatan yang dapat menarik minat anak usia emas. Kegiatan yang mendukung anak bangga menjadi seorang katolik. Sehingga dapat bekerjasama dengan sekolah yang menerapkan ide tadi. Paroki terus berupaya menelurkan SDM yang dapat menangani kegiatan itu secara professional. Paroki dalam hal ini tentunya pastor paroki dan pengurus paroki. Tugas pastor paroki dan pengurus paroki tidak hanya dalam lingkup kegiatan paroki saja. Kepekaan menjadi modal utama dalam menyikapi perkembangan iman sebagai dasar moral. Evaluasi harus terus dilakukan. Sehingga paroki dapat merangkul seluruh sarana yang ada untuk ikut ambil bagian pembentukan manusia katolik sejati.

AWAM

Awam adalah semua orang yang berimankan katolik. Setiap manusia pasti menginginkan generasi penerusnya memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik adalah kepribadian yang seimbang intelektual dan rohani. Maka dari itu sudah sepatutnya pula awam ikut ambil bagian memberikan bimbingan rohani. Mendukung seluruh program paroki dengan cara ikut terlibat didalamnya.

Sungguh sangat membanggakan apabila gerakan ini ada yang memulai, jika sekolah yang memulai maka sekolah tersebut akan menambah nilai plus di mata masyarakat. Jika keuskupan ini yang memulai, berarti keusupan ini akan menjadi pelopor bagi yang lain. Membuat sesuatu yang baik hanya diperlukan sebuah tindakan dan doa. Maka Tuhan akan memberkati dan ikut campur tangan.Pembaca yang berbahagia, dapat dibayangkan jika gerakan ini terus menerus dilakukan. Hasilnya akan sangat luar biasa terhadap perkembangan moral manusia. Tidak akan ada lagi kesulitan mencari misdinar, disetiap pertemuan komunitas akan banyak generasi muda yang menghidupkan suasana. Tentunya angka kriminalitas akan turun, kepedulian akan sesama akan meningkat. Sebuah dunia baru akan tercipta. Dan TUHAN AKAN SELALU TERSENYUM KARENA MENDAPATI IMAN DI DUNIA INI. Smoga tulisan ini dapat menjdi inspirasi banyak pihak. SALAM HATI YESUS YANG MAHA KUDUS.

Minggu, 10 Oktober 2010

Renungan

Kontrasepsi Menurut Ajaran Gereja:

Aspek Unitive dan Aspek Procreative dari Kasih Perkawinan

Oleh: Rm William P. Saunders

Dengan pemahaman kita akan perkawinan dan kasih perkawinan, kita dapat siap melihat bahwa ungkapan kasih yang terindah dalam perkawinan adalah kasih perkawinan, atau kasih jasmani, atau hubungan seksual, atau kasih suami isteri - apapun istilahnya. Tentu saja, kasih dalam perkawinan jauh lebih luas dari sekedar tindakan kasih suami isteri. Namun demikian, tindakan ini memancarkan suatu simbolisme yang unik dan khusus dari Sakramen Perkawinan - perjanjian antara dua orang yang telah menjadi satu daging.

Yang menarik, dalam teologi sakramen, kita percaya bahwa suatu sakramen terdiri dari dua unsur: forma, atau bagian doa dari sakramen; dan materia, bagian fisik dan tindakan dari sakramen. Sebagai contoh, dalam perayaan Sakramen Baptis, materia sakramennya adalah imam menuangkan air ke atas kepala calon baptis atau membenamkan orang yang dibaptis ke dalam air sebanyak tiga kali; pada saat yang sama imam mendaraskan forma sakramen, “N. aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Dalam Sakramen Perkawinan, pasangan yang menikah adalah pelayan-pelayan sakramen; imam adalah saksi resmi Gereja yang juga menyampaikan berkat Tuhan. Forma Sakramen Perkawinan adalah pertukaran janji perkawinan; materia sakramen adalah konsumasi (= consummatio) perkawinan, ketika pasangan menyempurnakan janji perkawinan mereka dengan ungkapan kasih secara fisik. Sebab itu Gereja mengajarkan, “Maka dari itu tindakan-tindakan, yang secara mesra dan murni menyatukan suami-isteri, harus dipandang luhur dan terhormat; bila dijalankan secara sungguh manusiawi, tindakan-tindakan itu menandakan serta memupuk penyerahan diri timbal balik, cara mereka saling memperkaya dengan hati gembira dan rasa syukur” (Gaudium et Spes, No. 49).
Paus Paulus VI dalam ensikliknya Humanae Vitae (No. 9) menawarkan suatu refleksi yang indah atas kasih suami isteri dalam perkawinan. Bapa Suci mengatakan bahwa kasih perkawinan adalah kasih yang sepenuhnya manusiawi, sebab ia merangkul kebajikan dari keseluruhan diri orang dan berdasarkan pada kehendak bebas, memberikan seluruh diri kepada pasangannya. Kasih ini bertahan melewati sukacita dan derita, keberhasilan dan kegagalan, kebahagian dan kemalangan, mempersatukan pasangan baik secara badani maupun jiwani. Kasih ini juga total - bebas dari batasan, keraguan ataupun prasyarat. Kasih ini setia dan eksklusif bagi masing-masing pasangan. Pada pokoknya, kasih ini haruslah merupakan suatu tindakan yang saling menghormati, suatu ungkapan kasih yang sejati. Tidak seperti apa yang begitu sering digambarkan oleh berbagai media pada masa kini, kasih perkawinan bukanlah suatu tindakan erotis, berdasarkan pada cinta diri, melampiaskan kenikmatan sesaat atau kesewenangan. Bukan, kasih perkawinan adalah suatu tindakan sakral yang mempersatukan suami isteri satu dengan yang lain dan dengan Tuhan. Semangat dari ajaran ini merefleksikan apa yang disabdakan Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Di samping itu, tindakan kasih perkawinan juga ikut ambil bagian dalam karya kasih penciptaan Allah. Pasangan yang telah menjadi suatu ciptaan yang baru dengan menjadi suami dan isteri, satu daging, juga dapat ikut menghasilkan ciptaan suatu kehidupan baru sesuai kehendak Tuhan. Vatikan II menegaskan, “Menurut sifat kodratinya lembaga perkawinan sendiri dan cinta kasih suami-isteri tertujukan kepada lahirnya keturunan serta pendidikannya, dan sebagai puncaknya bagaikan dimahkotai olehnya” (Gaudium et Spes, No. 48, bdk. No. 50). Konsili mengajarkan, “Oleh karena itu pengembangan kasih suami-isteri yang sejati, begitu pula seluruh tata-hidup berkeluarga yang bertumpu padanya, - tanpa memandang kalah penting tujuan-tujuan perkawinan lainnya, - bertujuan supaya suami-isteri bersedia dengan penuh keberanian bekerja sama dengan cinta kasih Sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka makin memperluas dan memperkaya keluarga-Nya” (Gaudium et Spes, No. 50).
Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya Evangelium Vitae merefleksikan bahwa gambar dan citra Allah Sendiri disalurkan melalui penciptaan suatu jiwa yang abadi langsung oleh-Nya. Di samping itu, seorang anak adalah sungguh personifikasi kasih suami dan isteri dalam persatuan dengan sang Pencipta. Sebab itu, “Justru dalam peran serta mereka sebagai rekan-rekan kerja bersama Allah yang menyalurkan citra-Nya kepada ciptaan baru-lah kita saksikan keagungan pasangan-pasangan suami isteri, yang bersedia `bekerja sama dengan cinta kasih sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka hendak memperluas dan memperkaya keluarga-Nya sendiri dari hari ke hari'” (Evangelium Vitae, No. 43, yang juga mengutip dari Gaudium et Spes, No. 50).
Sepanjang Kitab Suci, kita melihat kelahiran anak-anak sebagai suatu berkat dari Tuhan dan suatu tanda perjanjian yang hidup antara Tuhan dengan suami isteri. Sebagai contoh, Musa menyampaikan hukum perjanjian dengan memaklumkan, “Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu” (Ul 7:12-14). Jelas bahwa kehidupan, kesuburan dan pembiakkan dihargai sebagai hal-hal baik yang dianugerahkan Tuhan.
Karena sabda ini dan pemahaman bahwa aspek pembiakan dari kasih perkawinan merupakan suatu anugerah yang kudus, maka “kemandulan” atau ketidaksuburan sungguh merupakan suatu salib berat yang harus ditanggung suatu pasangan. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama, dalam kisah Hana - isteri Elkana - kita membaca bagaimana ia berdukacita karena tak dapat mempunyai anak meski hidup perkawinannya bahagia. Kitab Suci mencatat, “Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: `TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya'” (I Sam 1:9-11). Tuhan mendengarkan doa permohonan Hana, dan ia mengandung lalu melahirkan seorang anak laki-laik yang diberinya nama Samuel.
Dalam Perjanjian Baru, kita membaca kisah Elisabet dan Zakharia, yang adalah orang-orang “benar di hadapan Allah” dan “hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”. Tetapi, hingga lanjut usia mereka tetap tak mempunyai anak. Atas kehendak Tuhan, Elisabet mengandung lalu melahirkan seorang anak laki-laki, Yohanes Pembaptis. Elisabet pun berkata, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang” (bdk Luk 1:5-25). Mengikuti alur pemikiran ini, Vatican II menegaskan, “Memang anak-anak merupakan kurnia perkawinan yang paling luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri” (Gaudium et Spes, No. 50).
Sebab itu, janganlah kita memisahkan aspek persatuan penuh cinta (= unitive) kasih perkawinan dari aspek pembiakan (= procreative). Kedua aspek ini pada hakekatnya baik. Kedua aspek ini tak terpisahkan dalam tindakan perkawinan (= hubungan badani suami isteri). Bahkan jika suatu pasangan tidak subur, tindakan suami isteri itu tetap memiliki karakter sebagai suatu persatuan hidup dan kasih. Kita harus terus-menerus berfokus pada perjanjian hidup dan kasih yang saling dibagikan di antara pasangan satu sama lain dalam persatuan dengan Tuhan.
YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Renungan

AKU DAN HATIKU

Oleh: Yohannes N.B

Sekali waktu anakku bertanya “ Pa, jadi orang Islam itu berat ya ..”. “Kenapa kamu katakan berat nak ? “, tanyaku balik. ”Coba papa bayangin. Mereka harus sembahyang lima waktu. Selain itu sembahyangnya juga ngga bisa sembarang, harus ini-itu. Apalagi di televisi ada anak umur 7 tahun sudah hafal Alquran. Apa ngga berat tuh. Enakan katolik semuanya bebas.” jelasnya kepadaku.

Percakapan yang sederhana ini terus teringat olehku dan timbul beberapa pertanyaan dalam hatiku. Apakah pengertian ini yang tertanam dalam setiap diri anak-anak katholik? Kemudian jika memang katolik sebebas itu, kenapa katolik sulit diterima oleh kebanyakan orang ? Bukannya manusia senang akan kebebasan? Hal inikah yang dikehedaki oleh Yesus?.

Aku terus merenung dan berpikir apakah jawaban dari semua pertanyaan itu?. Pengetahuanku mengenai kitab suci sangatlah dangkal, tidak sehebat anak umur 7 tahun yang mampu menghafal Alquran. Kucoba sedaya upaya untuk mengingat kedatangan Yesus ke dunia ini untuk apa?. ”Kedatangan Tuhan Yesus untuk menyelamatkan manusia dari kemusnahan dengan cara menebus segala dosa manusia. Maka dari itu Yesus demi cintanya kepada manusia Dia rela disalib.” kata-kata inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaanku yang terakhir.

Tetapi apa itu Dosa? Bukankah dosa itu identik dengan kesalahan. Kalo ada kesalahan berarti ada peraturan dong. Orang yang melanggar larangan disebut bersalah, orang yang tidak melaksanakan perintah entah itu dari atasan tau lain juga disebut bersalah. Terus dimanakah peraturan itu ada dalam kitab suci ?. ”Coba kamu baca dalam perjanjian lama”,jawab hatiku . Kembali aku mengingat cerita-cerita dalam perjanjian lama, sepertinya perjanjian lama pada jaman dulu dikatakan juga sebagai hukum taurat. Hukum yang dipegang teguh oleh kaum Yahudi. Dikatakan hukum tentunya didalamnya ada sejumlah larangan, perintah dan sanksi. Jikalau memang di kitab suci ada hukum taurat yang mengatur segala hal mengenai tingkah laku. Artinya ada hukuman juga dong yang harus diterima jika seseorang melanggarnya. Tetapi bukankah Yesus pada saat ditanya oleh sejumlah orang mengenai hukuman seorang pelacur yang kedapatan berzinah, Yesus tidak memberikan hukuman pada pelacur itu. Hatiku kembali menjawab,“Yesus pada saat itu mempunyai tugas untuk memberikan teladan kasih. Karena pada saat itu,semua orang terlalu fokus pada peraturan dan melupakan tujuan peraturan itu dibuat. Pada jaman itu , orang memakai hukum taurat untuk menindas sesamanya, lupa menggunakan hukum taurat untuk membimbing orang kepada Allah. Hukum taurat hanya dipakai untuk menunjukan keegoisan pribadi ”.

Lah… kalau seperti itu berarti Yesus meniadakan hukuman pada pelanggar karena dengan alasan kasih. Wah..enak dong seperti yang dikatakan anakku tadi. Setiap orang bisa melakukan kesalahan apapun kemudian pasti diampuni karena ada kasih. “Dasar kamu itu bodoh ya..sudah bodoh,bebal lagi ”. Waduh-waduh ada yang memarahiku. ”Hei orang bodoh coba kamu buka injil Matius 5:17-48. Disana dikatakan , kedatangan Yesus bukan untuk meniadakan hukum taurat tapi malah menggenapi.Karena apa ? karena saat itu orang tidak tahu cara menjalankan hukum taurat seperti yang dikehendaki Allah. Dan jugaYesus menganjurkan agar hidup keagamaanmu harus lebih baik daripada ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi. Melalui hukum Taurat yang sudah digenapi oleh Yesus, hendaknya kamu dapat memenuhi harapan Bapa di surga yaitu menjadi sempurna.”

Wah…kesimpulannya. Menjadi orang katolik tidaklah semudah yang aku pikirkan. Aku sebagai orang katolik dituntut pula untuk menjalankan hidup keagamaanku sesuai hukum taurat yang sudah digenapi. Ya menjalankan hukum taurat yang penuh peraturan itu, ya juga dituntut menjalankan kasih. Weleh..weleh bodohnya aku , inilah akibatnya kalau jarang membaca kitab suci dan merenungkannya. Yang ada malah dengan pengetahuan yang setengah setengah kemudian aku asumsikan seenak perutku ditambah tidak melaksanakan pula. Tuuuuuhaaaan ampuni hambamu yang o’on ini.

Pojok KOMKA

Liputan Camping Rohani Komka St. Don Bosco

Loksado, 9 – 12 September 2010


Mengisi akhir pekan sekaligus liburan Idul Fitri 1431 H, pada hari Kamis tanggal 9 September 2010 hingga hari Minggu, 12 September 2010 yang lalu, KOMKA ST.Don Bosco Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus, Veteran, Banjarmasin mengadakan camping rohani ke desa Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai acara keakraban dari rekan-rekan komka, sekaligus juga untuk diajak lebih mengenal alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, oleh karena itu, acara ini mengambil sebuah tema yang berjudul "Mengenal karya Tuhan dan keakraban sesama anggota komka". Bagaimana rangkaian kegiatan yang berjalan selama kurang lebih 4 hari 3 malam itu??

Rabu, 08 September 2010 (malam)

Malam itu kami mengadakan briefing untuk menentukan acara di Loksado, sekaligus juga untuk mendata jumlah anggota komka yang akan pergi ke Loksado, sekaligus juga membagi beberapanya ke dalam kelompok. Selain itu, kami juga mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal keesokan harinya, seperti alat masak, Transportasi, dan peralatan yang berhubungan dengan liburan ke Loksado.

Kamis, 09 September 2010

Hari itu, kami akan berangkat menuju ke Loksado. Mereka semua mulai berdatangan pada jam 7 pagi, seraya menunggu teman yang lain datang, mereka mengangkut seluruh barang-barang ke dalam truk yang telah dipersiapkan sebelumnya. Akhirnya jam 8 pagi, kami semua di lepas oleh Rm.Gregorius,CP. Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu, memohon berkat Tuhan melalui Rm.Greg, agar kami selamat hingga ke Loksado nanti. Kemudian kami pun seluruhnya naik ke dalam Truk. Dalam perjalanan, kami semua bernyanyi dan bergembira bersama, meskipun pada saat itu ada beberapa teman yang merasakan mabuk darat, sehingga dalam perjalanan, kami harus berhenti beberapa saat untuk menolong teman-teman yang terserang mabuk darat. Akhirnya kurang lebih 6 jam perjalanan, pukul 2 siang kami pun sampai di sebuah Villa penginapan di desa Loksado. Setelah selesai makan siang, beberapa dari kami segera mempersiapkan segala sesuatu nya, seperti menurunkan barang-barang (bagasi), kemudian grup cowok memasang tenda di halaman belakang villa, sedangkan grup cewek mempersiapkan makanan untuk makan malam nantinya. Akhirnya hari sudah sore, kami pun segera bercebur ke sungai untuk mandi. Suasananya terasa ramai, karena kami saling bercanda dan juga berbagi keakraban membuat kami melupakan dinginnya air sungai yang sore itu membasahi kami. Setelah selesai mandi (dan makan malam), kami segera menuju wisma loksado, untuk memulai acara kami yang langsung dipandu oleh Rm.Simon, Pr yang mendampingi kami. Kami diajak untuk menikmati sebuah cerita film tentang Tony Melendez, ia seorang yang cacat, tidak mempunyai tangan, namun ia mampu menjadi inspirasi untuk semua orang, agar kami semua tidak putus asa, bahkan mampu memggunakan kekurangan kami untuk menjadi kelebihan bagi semua orang. Setelah pemutaran film itu, kami diajak untuk bermeditasi, dan doa malam. Sebelum kami kembali menuju Villa untuk beristirahat, Harris selaku pemandu kegiatan kami menjelaskan kegiatan kami keesokan harinya, yaitu mendaki gunung ke Air Terjun di wilayah Haratai sepanjang 8 KM (pergi-pulang=16 KM)!!

Jumat, 10 September 2010

Pagi-pagi kami sudah harus bangun untuk memulai kegiatan kami. Sekitar jam 7 pagi, beberapa dari kami sudah ada yang mandi, dan mempersiapkan sarapan. Setelah makan pagi, kami bersiap untuk melakukan perjalanan panjang menuju Haratai sekitar 8 KM, sebelum kami berangkat, kami semua berdoa terlebih dahulu, memohon berkat melalui Romo Simon agar kami boleh mengalami perjalanan yang menyenangkan. Setelah doa, kami seluruhnya berfoto terlebih dahulu. Akhirnya jam setengah 8 pagi, kami mulai menyusuri daerah pemukiman penduduk, hutan belantara yang penuh dengan ribuan pepohonan dan makhluk hidup lainnya, seperti ayam, babi hutan, kambing, domba, dll, memberikan refleksi untuk kami betapa indahnya alam ciptaan Tuhan ini. Meskipun beberapa dari kami terlihat lelah dalam berjalan, namun kami semua terlihat gembira, tanpa memikirkan rasa lelah kami, meskipun kami sempat beberapa kali beristirahat, namun istirahat kami juga terasa sangat menyenangkan karena kami juga menikmati cemilan ala pedesaan, seperti singkong dan kelapa muda. Kami semua merasa seperti hidup sebagai orang desa. Akhirnya kurang lebih 2 jam berlalu, kami harus melewati tantangan terakhir sebelum tiba di air terjun haratai, yaitu melewati tanah merah yang licin, banyak kerikil tajam, dan banyak lumut, apalagi saat itu turun hujan. Meskipun beberapa dari kami ada yang terjatuh saat berjalan di atas tanah licin, namun Puji Tuhan kami semua dapat melewatinya dan akhirnya tiba di air terjun bersama-sama. Kemudian, seraya makan siang, kami semua meluapkan kegembiraan dengan bercebur di sekitar air terjun, sambil menikmati indahnya alam yang memayungi kami semua. tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami harus pulang kembali menuju loksado, sebelum pulang kami juga berdoa dan berfoto bersama dengan latar air terjun yang begitu indah. Dalam perjalanan pualng kami melewati tanah merah dan beberapa rumah penduduk, dan akhirnya kami sampai di loksado kurang lebih jam 6 sore. Setelah tiba, kami semua langsung mandi ke sungai, dan sesudah makan malam, kami semua harus beristirahat karena kami semua merasa kelelahan setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan namun menggembirakan ini. Terlihat kami semua telah tidur lelap, namun jam 12 malam sontak suasana cukup ribut. Ada apa?? Ternyata 2 teman kami, Rudini dan Purwadi berulang tahun saat itu juga. Lantunan lagu “Happy Birthday” dan “Panjang Umur” sedikit menghilangkan rasa kantuk kami untuk berbagi keceriaan dengan mereka yang berulang tahun. Setelah itu, kami semua kembali menuju ke kamar kami untuk melanjutkan istirahat.

Sabtu, 11 September 2010

Seperti biasa, kami bangun jam 7 pagi. setelah mandi dan makan pagi, kami segera memulai acara kami, yaitu evaluasi. Dalam acara yang dipandu oleh Rm.Simon, kami diajak untuk belajar saling kerja sama melalui permainan kayu. Setelah permainan, Harris yang juga memandu acara evaluasi mengajak kami untuk bermeditasi sambil merenungkan sebuah komitmen untuk membangun komunitas orang muda sepulang dari Loksado nantinya. Akhirnya setelah evaluasi berakhir, kami melanjutkan acara kami yaitu bermain bamboo rafting (Arung Jeram), melintasi Sungai Amandit dari Loksado menuju permandian air panas Tanuhi. Meskipun saat itu hujan deras dan angin kencang menghantam tubuh kami, namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk melintasi arus sungai dan bebatuan curam seraya menikmati alam sekitar yang begitu indah. Akhirnya 2 jam kemudian kami pun sampai di Tanuhi, namun ketidakberuntungan menyelimuti kami semua. Karena antrian pengunjung air panas yang begitu banyak, kami terpaksa mengurungkan niat kami untuk menikmati air panas. Meski demikian, pengalaman berharga saat kami melintasi sungai menggunakan rakit takkan hilang dalam ingatan kami, membuat kami pulang menuju Loksado dengan kegembiraan pula. sesampainya di Villa, kami segera mandi sore. Namun karena hujan deras yang mengakibatkan air pasang dan liarnya arus sungai, kami pun harus mandi di kamar mandi yang tekah disediakan. Tak terasa hari sudah malam, dan itu adalah malam terakhir kami di Desa Loksado. Oleh karena itu, pada malam terakhir ini, kami mengadakan acara khusus, dimana kami semua diajak untuk membentuk sebuah komitmen untuk mengembangkan komunitas OMK di paroki Veteran, sepulang nanti. Adapun acara ini dipandu oleh Harris dan Romo Simon. Setelah renungan singkat, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana kami membicarakan visi dan misi, serta karakter Komka Veteran kedepannya. Di akhir acara, Romo Simon yang telah mendampingi kami selama 3 hari mengucapkan terima kasih kepada kami semua sekaligus memberi apresiasi kepada kami, bahwa sebenarnya kekompakan dan semangat kami inilah yang seharusnya menjadi bekal buat kami untuk regenerasi komka Veteran di masa mendatang (mengingat kami semua telah lulus SMA). Romo Simon juga berpesan agar sepulang dari Loksado keesokan harinya, kami semua lebih melakukan banyak kegiatan untuk kemajuan Komka Veteran dan juga Paroki Veteran itu sendiri. Setelah acara berakhir, malam itu juga kami mengadakan acara BBQ party bersama-sama. Sebuah malam yang indah dimana kami dapat menunjukkan kebersamaan kami di malam terakhir itu.

Minggu, 12 September 2010

Akhirnya tiba juga hari kepulangan kami. Setelah mandi dan makan pagi, kami segera membereskan barang bawaan kami ke dalam truk. Setelah semuanya selesai, kami pun segera naik ke dalam truk itu. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam untuk sampai di Banjarmasin, tentunya dengan beberapa pemberhentian, karena beberapa teman kami ada yang terkena mabuk darat, dan di sekitar loksado terjadi insiden tabrakan yang membuat jalan menjadi macet. Namun akhirnya jam 8 malam kami sudah tiba di Banjarmasin. Suatu perjalanan yang menyenangkan dimana rekreasi kami seperti sebuah "Petualangan". Akhirnya saat itu juga kami membereskan barang-barang kami dan kami pulang ke rumah kami masing-masing, membawa pengalaman dan sukacita yang luar biasa. (arc)

Keluarga Koster

Rumah pak koster sedang kebanjiran, airnya meluap dari kamar mandi hingga menggenangi sebagian dari rumah pak koster.

Bu Koster: Pak.. pak.., airnya semakin banyak lo pak. Bagaimana ini?

Pak Koster : sabar bu, ini juga bapak baru pulang dari pinjam selang sama tetengga. Selang ini untuk menyedot air dari kamar mandi dialirkan keluar.

Bu Koster : Apa bisa menyelesaikan banjir ini ?

Pak Koster : Ini hanya solusi sementara sampai besok tukang yang bapak panggil memperbaiki saluran yang buntu datang. .

Bu Koster : Kenapa ya bisa buntu?

Kosta : Dimana mana banjir, peringatan dari Tuhan.

Kosti : Rasanya tidak sampai 2012 ini kita sudah kiamat.

Bu Koster : Husss… kalian ini bicara apa? Ini banjir bukan karena bencana alam tapi karena buntu.

Pak Koster : Ini sebenarnya peringatan…

Kosta : Nah apa yang kosta bilang… betulkan, ini peringatan dari Tuhan.

Kosti : Kosti juga melihat di televisi ada langit terbelah, matahari ada 4, trus globe warming.

Kosta : Global Warming Kosti. Itu artinya suhu di bumi semakin meningkat.

Pak Koster : Ini sebenarnya peringatan…

Kosti : Iya pak, peringatan dari Tuhan. Temen temen di SD Kosti juga sudah mulai diajarkan cinta lingkungan dengan jalan tidak membuang sampah sembarangan, merawat taman sekolah. Sekarang SD Kosti kelihatan indah.

Bu Koster : Seandainya saja, warga dilingkungan kita seperti anak SD yang cepat tanggap dan mudah menjalankan kebersihan. Tentunya rumah kita tidak akan banjir.

Pak koster : Ini sebenarnya….

Bu koster: Sebenarnya peringatan dari Tuhan. Supaya kita terus menjaga lingkungan, jangan mau ambil untungnya aja. Bukannya semuanya ini cuma titipan saja.

Kosta : Betul bu, bahkan di doa yang diajarkan Yesus sendiri juga dikatakan berilah kami rejeki secukupnya pada hari ini. Berartikan tidak boleh serakah.

Kosti : Semoga kejadian di cerita Nabi Nuh tidak terjadi ya pak?

Pak koster : Tau ah…

Bu koster : Idiihh.. bapak ngambek..

Pak koster : Makanya kalau bapak mau bicara jangan dipotong terus. Ini sebenarnya peringatan bagi kita semua di rumah ini. Saluran kamar mandi menjadi buntu karena kelalaian kita semua yang tidak menjaga kebersihan saluran. Contohnya kalau mencuci piring, sisa bekas makan dibuang dahulu di tempat sampah. Terus jika membuang tissue jangan di kamar mandi. Menyapu lantai di sekitar kamar mandi, pasirnya jangan dibuang ke kamar mandi. Kalau memasak juga jangan membuang potongan sayuran ke kamar mandi, walau itu potongan kecil kecil.

Bu Koster: Waduh bapak, lengkap koreksinya.

Pak Koster: Kebersihan lingkungan itu berawal dari menjaga kebersihan tubuh dulu, rumah baru lingkungan sekitar rumah. jika kita sudah terbiasa hidup bersih, kita pun akan merasa risih membuang sampah sembarangan.

Kosti : Baik, pak. Sekarang bisakah Kosti minta uang untuk beli es krim.

Bu Koster: NNNGGGGAAAK! Masa setiap hari beli es cream..

Kosti : Inilah benar benar awal kiamat dunia….

Sambil berkata seperti itu, Kosti berjalan menjauh diiringi berakhirnya pembicaraan tadi.
Seluruh anggota gempar dan gempar online,
Seluruh Umat Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus
mengucapkan

SELAMAT


kepada:

Yang Mulia Mgr. Petrus Boddeng Timang,Pr
untuk Ultah Imamat ke-35 tahun
13 Januari 1974 - 13 Januari 2009

dan

Yang Mulia Mgr. (Em.) Wilhelmus Demarteau, MSF
untuk Ulang Tahun ke-92
24 Januari 1917 - 24 Januari 2009
Panjang Umur dan Sehat Selalu

Doa dan Kasih kami untuk Bapa Uskup Berdua